PUSPIPTEK

BRIN GELAR FOCUS GROUP DISCUSSION DALAM MENDUKUNG SUSTAINABILITY UNTUK INDUSTRI SECURITY PAPER

Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) series ke-2 pada tanggal 28 Juli 2022. FGD series kedua dengan topik “Sustainable Engineering dan Inovasi Bahan Alam Untuk Security Paper” ini merupakan rangkaian dari (FGD Series) Potensi Pemanfaatan Bahan Alam Dalam Mendukung Sustainability Industry Pulp dan Kertas Sebagai Penggerak Perekonomian Indonesia. FGD series kedua ini dilakukan secara daring melalui zoom dan kanal youtube live streaming Sustainability BRIN. Peserta yang mengikuti acara FGD series kedua melalui zoom meeting ada sebanyak 108 orang peserta.

Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (Pusat Riset SPBPDH) Nugroho Adi Sasongko, Ph.D, IPU membuka acara FGD series kedua ini, dalam sambutannya Nugroho menyampaikan tujuan diselenggarakannya FGD ini adalah untuk mengetahui lebih jauh dalam meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam produksi kertas dan fungsi keamanan kertas sekuriti (security paper), menggali potensi bahan baku terbarukan lokal yang dapat memiliki sifat yang diharapkan dalam aplikasi security paper, mengetahui potensi budidaya serta ekosistem yang dibutuhkan agar keberlanjutan bahan baku lokal dapat dipastikan, serta melakukan kajian ECO-design produk kertas yaitu keberlanjutan atau sustainability dari berbagai material yang dapat digunakan sebagai bahan security paper.

Pusat Riset SPBPDH menghadirkan beberapa narasumber untuk FGD series kedua ini, antara lain Teddy Kardiansyah, S.Si, M.Sc (Peneliti Ahli Muda Balai Besar Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Selulosa – Kementerian Perindustrian), Prima Luna, S.TP, M.Si, Ph.D (Peneliti Ahli Madya Balai  Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian – Kementerian Pertanian), Dr. Agusta Samodra Putra (Peneliti Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup – BRIN), dan Astrid Drexler (Product Manager Bank Note Paper).

Narasumber pertama,Teddy Kardiansyah memaparkan potensi sumber daya alam nasional dan teknologi dalam mendukung bahan baku industri kertas nasional.Teddy menjelaskan industri pulp di Indonesia menduduki peringkat 8 dunia dengan volume 12,13 juta ton pertahun dan industri kertas menduduki peringkat 6 dunia dengan volume 18,26 juta ton pertahun. Dalam paparannya, Teddy juga menyampaikan bahan baku pulp dan kertas secara umum dibagi menjadi tiga yaitu kayu, non kayu, dan kertas daur ulang. Sumber daya alam untuk serat Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi alternatif bahan baku pulp dan kertas. Kapas, kenaf, dan abaka memiliki potensi sebagai bahan baku kertas sekuriti (security paper) serta tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan kertas kemas (packaging paper). Sedangkan untuk security paper diperlukan serat yang panjang dan mempunyai kekuatan lebih tinggi dan durability yang baik sehingga tidak mudah sobek.

Prima Luna sebagai narasumber kedua memaparkan trend material processing dari serat biomassa pertanian. Luna menyampaikan beberapa bahan limbah pertanian dapat  digunakan sebagai bahan alternatif sumber bahan baku selulosa, dimana selulosa (bahan pulp dan kertas) memiliki karakteristik renewable, biodegradable (dapat terurai), eco-friendly, non-toxic, murah, densitas rendah, kebutuhan energi minimum, kuat, nilai modulus tinggi, memiliki kompatibilitas tinggi. Dalam paparannya, Luna juga menyampaikan trend pengembangan selulosa sebagai security paper diantaranya teknologi Cellulose Nano Fiber (CNF) CNF memiliki peran penting dalam menciptakan formulasi untuk specialty paper. Ekosistemnya nya juga perlu dipastikan, karena perlu ada industri pulp yang menginvestasikan dalam produksi CNF.

Dalam sesi paparan berikutnya, Agusta Samodra memaparkan perkembangan riset penilaian daur hidup untuk industri pulp dan kertas – potensi bahan non-kayu untuk pembuatan pulp. Agusta menyampaikan produksi pulp di Indonesia dari tahun 2010 sampai 2020 meningkat. Penilaian daur hidup untuk industri pulp dan kertas dimana termasuk security paper di Indonesia perlu dilakukan untuk mendukung proses produksi yang berkelanjutan. Selain itu, Agusta juga menyampaikan perlu dilakukan kajian social LCA (Life Cycle Assesment) untuk industri pulp dan kertas. Serat abaca memiliki potensi besar sebagai bahan baku kertas dan sudah banyak kajian yang dilakukan oleh para peneliti sejak tahun 2000-an. Bahan-bahan non-kayu lain seperti tandan kosong kelapa sawit, bambu, dan bagasse (ampas tebu) dapat dijadikan sebagai bahan alternatif.

Narasumber terakhir, Astrid Drexler memaparkan green banknotes by using alternative fibres to cotton. Dalam paparannya Astrid menyampaikan ketersedian material cotton atau kapas cukup tinggi dan memiliki penyerapan yang baik, namun bahan meterial mentahnya meninggalkan dampak carbon footprint (CO2) yang tinggi dibandingkan dengan jenis serat lainnya. Penggerak utama dari keberlanjutan uang kertas adalah daya tahannya, sehingga dicari alternatif selain kapan (cotton) yang lebih berkelanjutan dan dapat meningkatkan umur pemakaian dari uang kertas. Salah satu alternatif serat yang ditawarkan adalah abaca, dimana abaca memiliki serat dengan kekuatan yang tinggi dan sering digunakan dalam industri kertas untuk produk seperti teh celup dan filter. Bahan baku yang dapat diperbaharui memiliki peranan penting pada aspek keberlanjutan. Potensi abaca dapat dimanfaatkan secara efektif untuk produksi kertas uang yang memiliki ketahanan tinggi atau dapat meningkatkan umur pemakaian.(ay/edt.aj,esn)