PUSPIPTEK

Charging Station for Electric Vehicle

Pada saat ini BRIN memiliki target besar yang terkait dengan perkembangangan kendaraan listrik/ Electric Vehicle (EV), tidak hanya fokus pada kendaraan listriknya saja namun juga infrastruktur pendukung yang telah dipersiapkan sejak lama dari tahun 2019 yakni Electric Vehicle Charging Station (EVCS).

Pengembangan Charging Station ini sangat penting mengingat untuk satu Charging Station digunakan untuk 10 kendaran EV. “Jadi kalau kita punya 1000 EV, kita membutuhkan 100 Charging Station” ungkap Barman, selaku periset di Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi, Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN.

Apa yang dilakukan Barman dan Tim Periset adalah mengejar ketertinggalan dengan memiliki suatu sistem Charging Station yang bisa mendukung pengembangan Electric Vehicle di Indonesia.

Pada tahap inilah yang menarik bahwa BRIN tidak hanya mengembangkan Charging Station namun juga mengembangkan sistem Platformnya yang disebut dengan CSMS (Charging Station Monitoring Sistem) dimana BRIN sendiri sudah memiliki brand logo SONIK yang telah memiliki paten. SONIK merupakan singkatan dari Sistem Operasi Pengisian Kendaraan Listrik,  sedangkan CSMS yang “tertanam” dalam SONIK adalah suatu sistem yang dapat memantau secara real-time operasional Charging Station. Kegunaan dari CSMS SONIK ini adalah menterjemahkan berbagai tipe-tipe kendaraan EV yang ada untuk dapat bisa dicharge menggunakan mesin charging yang telah dikembangkan. SONIK saat ini telah terhubung dengan keenam SPKL (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik) yang dibangun BRIN melalui protokol OCPP (Open Charge Point Protocol), dimana OCPP ini telah diaplikasikan di lebih 65.000 statiun pengisian di 148 negara.

“Singkatnya adalah, kami mencoba mendorong pengembangan Electric Vehicle ini secara elektrik namun juga bagaimana infrastrukturnya juga kita kembangkan” Ujar Barman.

Pada tahun 2021. EVCS yang dikelola BRIN telah digunakan sebanyak 968 kali dengan konsumsi energi sekitar 16,9MWh dengan pelanggan terbanyak taksi online listrik.  Total transaksi sejak tahun 2019 sampai 2021 adalah 3.023 transaksi sedangkan total konsumsi 71,89 MWh.

BRIN sendiri juga telah mengembangkan Kendaraan EV berbasis hidrogen dan juga membuat bus-bus listrik dengan teknologi pantograph, karena melihat dibeberapa negara sudah memiliki kendaraan umum berbasis listrik yang infrastuktur kendaraan umum tersebut sudah dibuat sejak awal.

Prototype dari bus listrik sudah dibuat dan dapat menjadi salah satu alternative untuk perkembangan EV berbasis bus sebagai kendaraan umum. Dengan sistem pantograph, bus tersebut tidak terlalu bergantung pada baterainya namun listrik dapat disuplai dari jaringan pantograph diatasnya (overhead line) dimana untuk bis bebasis baterai harus diisi di Charging Station.

BRIN juga mengembangkan motor listrik yang berukuran besar untuk aplikasi di bow thruster dengan kapasitas 160 KW dan 250 KW. Ini yang menjadikan salah satu tantanganya karena motor listrik dengan kapasitas 160 KW dengan diameter 1,2 Meter sedangkan untuk kendaraan roda dua pastinya membutuhkan kapasitas yang lebih kecil yakni sekitar 1,7 KW sampai dengan 2 KW dengan diameter yang lebih kecil.

Untuk membuat sebuah motor listrik dengan kapasitas kecil sangatlah tidak mudah dikarenakan memerlukan dukungan industri manufaktur untuk membuat komponen yang presisi. “Dan direncanakan pada Indonesia Elelctric Motor Show 2022 akan kita coba tampilkan dan kita perkenalkan hasil dari teman-teman periset dalam pengembangan motor listrik, dimana kegiatan ini sudah dilakukan di 2021 dan berharap di tahun 2022 ini kita dapat menonjolkan hasil karya dari periset-periset kita” Ujar Barman

Untuk mitra sendiri Barman mengungkapkan telah memiliki mitra untuk motor listrik kendaraan di air dan beberapa industri sudah kita usahakan untuk dapat bekerjasama. Namun hal ini bukanlah proses yang cepat karena bagaiamanapun juga dalam pembuatan suatu prototype hingga menjadi product diperlukan sebuah perhitungan mengenai jumlah produksinya dan juga untuk meningkatkan TKDN.

Charing Station dengan merek EVcuzz (Electrical Vehicle Cuzz) menargetkan akan memasang 500 Charging Station di seluruh Indonesia namun masih terkendela dengan apakah negara bisa menyediakan produk charging station dari dalam negeri. Barman berharap industri dalam negeri mampu memproduksi permintaan yang sudah jelas kuantiti dan mampu bersaing dari segi harga yang kompetitif.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 dicanangkan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), perpres tersebut menghilangkan keraguan akan munculnya tipe kendaraan listrik yang masih menggunakan baterai dan mesin penggerak lainnya. Jika berbicara kendaraan hybrid belum sepenuhnya menggunakan baterai, BRIN sendiri sudah memiliki pengalaman dalam membuat engine yang kapasitasnya 500cc-600cc dan itu sulit sekali untuk bersaing dengan harga. Dikarenakan secara kuantitas belum memproduksi dalam jumlah yang besar, jika hanya memproduksi 100-200unit tentu saja harganya masih tidak mampu bersaing. Maka diputuskan KBLBB yang Full Baterai.

“Kenapa harganya masih mahal karena kita tahu harga baterainya itu belum bisa kita cover karena kita masih mengimport semua baterai yang ada di Indonesia sedangkan harga baterai itu sendiri cukup mahal bisa mendominasi 30%-40 % dari kendaraan listrik itu sendiri” ujar Barman.

Target BRIN terkait Charging Station sudah memiliki roadmap yang sudah disiapkan sejak awal yakni berupa AC Charging Station, DC Charging Sattion, Charging Station Roda Dua, dan Swab Charging Station yang telah disediakan dari awal untuk CSMS nya. Namun Barman dan tim memerlukan fasilitas uji, “charging station ini perlu diuji, kita buat charging station langsung diuji dimobilnya padahal kita memerlukan satu laboratorium khusus untuk menguji charging station ini dan ada kendaraannya” ungkap Barman

Walaupun charging station sudah ada tetap harus diuji itulah peran BRIN sebenarnya yang di harapkan di tahun 2022 ini mampu menyediakan peralatan alat uji untuk charging station. Karena rangkaian uji pastinya memilki banyak prosedur terlebih charging station ini berhubungan dengan manusia yang berkendara itulah mengapa kita juga harus menguji keandalan daripada softwarenya. Setelah charging stationnya diuji alat monitoring yang berupa CSMS ini, juga harus melalui tahapan uji dan tersertifikasi, sehingga dipastikan aman bagi orang yang mengendarai electric vehicle tersebut.

Harapannya di 2024 tahapan proses uji EVCS sudah selesai, kemudian dilanjutkan uji terhadap CSMS sebagai software yang menghubungkan untuk membaca Charging Station ke kendaraan, karena jika Charging Station ini tidak tersambung dengan softwarenya maka baterai tidak akan terisi dikarenakan tidak semua mobil memiliki plug dan sistem yang sama. “Ini yg sedang kita kembangkan dan mudah-mudahan tidak terlalu banyak variasi. Dari sistem software yg ada dan kemudian juga ada yang namanya perlindungan data klien. Regulasi-regulasi ini yang sedang dipersiapkan agar sebagai konsumen merasa aman datanya. Mudah-mudahan dari berbagia platform yang ada ini bisa dijadikan satu platform yang terintegari sehingga tidak memerlukan bayak variasi aplikasi.” Ungkap Barman.

Target untuk pengisian baterai fast charging waktunya bisa sampai 60 menit namun hanya mampu mengisi sampai 80% sedangkan 20% sisanya memang membutuhkan waktu yang lebih lama. Semakin cepat mengisi daya maka harga yang dibayarkan akan semakin tinggi juga. (rdt,aj/edt.aj/Foto.ar)