PUSPIPTEK

Kerjasama Riset antara PT. Bio Farma dan Pusat Riset SPBPDH:Workshop Riset Penilaian Daur Hidup dan Hilirisasi Produk Farmasi Vaksin

Tangerang Selatan, Pada hari Senin (13/06) Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (Pusat Riset SPBPDH), Nugroho Adi Sasongko, membuka Workshop Riset Penilaian Daur Hidup dan Hilirisasi Produk Farmasi Vaksin. Workshop diikuti oleh personil dari Bio Farma dan Pusat Riset SPBPDH. Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset SPBPDH menjelaskan bahwa workshop ini berlangsung atas kerjasama riset dengan PT. Bio Farma untuk dokumentasi kepentingan PROPER yang tiap tahun wajib disubmit oleh PT. Bio Farma sebagai industri farmasi ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Yang menarik dari aktivitas ini, selain dengan life cycle Assesment (LCA) itu sendiri, kita juga akan melakukan pendampingan PT. Bio Farma dalam sertifikasi ekolabel. Ke depan, ekolabel juga penting dalam menjalankan aktivitas bisnis proses di PT. Bio Farma, terutama memasuki pedagangan global. Meskipun produk PT. Bio Farma itu vaksin yang sifatnya esklusif, tetap saja memerlukan informasi lingkungan agar menunjukan bahwa sistem produksi di Infonesia mendukung sustainability development goals,” ujar Nugroho. Output dari kegiatan kerjasama riset ini juga berupa karya tulis ilmiah (KTI) yang akan disubmit ke jurnal Q1 bereputasi, The Lancet. Ketebaruan KTI dalam hal LCA sangat tinggi mengingat dokumentasi LCA masih sedikit terutama yang berhubungan dengan produk vaksin dan pharmaceuticals. Dengan demikian dapat menambah khasanah pengetahuan, baik di Indonesia dan juga global.

Workshop berlangsung selama 3 hari, yaitu tanggal 13 sampai dengan 15 Juni 2022. Materi hari pertama dimulai dengan paparan dari Ernie S.A Soekotjo yang menyampaikan materi Persiapan Sertifikasi Ekolabel Tipe II. Ernie menjelaskan teknis yang dapat dilakukan PT. Bio Farma untuk mempersiapkan diri dalam melakukan pengusulan ekolabel tipe II. PT. Bio Farma sendiri berencana mengajukan pelabelan lingkungan tipe II dengan klaim pengurangan konsumsi energi dan pengurangan limbah. Materi kedua adalah Life Cycle Assessment yang disampaikan oleh Edi Iswanto Wiloso dan dilanjutkan materi TKDN di Industri Farmasi oleh Irhan Febijanto.

Pada workshop hari kedua (14/06), Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional, Haznan Abimanyu, berkesempatan hadir. Dalam kesempatan ini, Haznan mengucapkan terima kasih kepada PT. Bio Farma yang sudah memfasilitasi dan melakukan kerjasama dengan BRIN. Haznan juga menyampaikan bahwa sebagai produsen vaksin terbesar di Indonesia yang sudah berdiri lebih dari 120 tahun yang lalu, PT. Bio Farma mempunyai tantangan yang semakin besar, baik tantangan daya saing, sustainability produknya, isu lingkungan dan sebagainya. Jika ingin perusahaan tetap eksis di masa mendatang, tantangan yang perlu diperhatikan diantaranya adalah pemenuhan standar dari WHO untuk vaksinnya, adanya continuous improvement dalam pengadaan bahan baku, proses manufakturing, proses delivery, dan juga isu lingkungan. Aspek lingkungan ini perlu kajian khusus terkait regulasi yang ada, baik nasional Indonesia, maupun Internasional. Jangan sampai produksi vaksin mengganggu lingkungan hidup sekitar. Haznan juga menyampaikan bahwa Pusat Riset SPBPDH ini merupakan mitra yang sesuai bagi PT. Bio Farma untuk menilai sistem produksi dan menjawab isu lingkungan.

“Namun, permasalahan yang dihadapi industri mungkin tidak hanya isu lingkungan, tetapi juga bagaimana penghematan energi, bagaimana proses manufakturing agar dapat optimal dan seterusnya. Di Organisasi Riset Energi dan Manufaktur berkumpul ahli – ahli dalam hal ini, PT. Bio Farma dapat juga bekerja sama dengan pusat riset-pusat riset lainnya di BRIN terkait isu – isu yang lain. Kita bisa fasilitasi kerjasamanya. Perlu kita ketahui juga bahwa di BRIN memiliki konsep open platform, maksudnya fasilitas yang ada di BRIN dapat diakses dan digunakan oleh semua pihak baik dari industri dan dari perguruan tinggi yang berkolaborasi dengan BRIN. Ada juga skema pusat kolaborasi riset yang merupakan kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, dan industri. Apabila ada masalah atau ada pengembangan produk, bisa dikolaborasikan dengan skema ini,” ujar Haznan menjelaskan skema kerjasama riset di BRIN dan sekaligus menutup sambutannya.

Workshop hari kedua kemudian dilanjutkan dengan paparan perhitungan dan diskusi LCA vaksin nOPV2 oleh Arif Dwi Santoso, Hismiaty Bahua dan tim. Menyambung rangkaian kegiatan Workshop Riset Penilaian Daur Hidup dan Hilirisasi Produk Farmasi Vaksin, pada Rabu (15/06) peserta workshop berkunjung ke Laboratorium Pengembangan Teknik Industri Agro & Biomedika BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi Serpong.ark/aj